Berjuang 24 Tahun untuk Buktikan Ia Belum Mati

Leave a comment

Sep 10, 2012 @ 10:21 by tanya gooogle

(ilustrasi) Hidup Asharfi Devi bagai neraka setelah menikah. Ia bahkan dinyatakan mati oleh suaminya

Ini adalah kisah seorang perempuan India, yang menikah di usia 12 tahun, menjadi ibu saat berumur 19 tahun, ditinggalkan suami di usia 23 tahun. Lalu, dinyatakan meninggal dunia pada usia 40 tahun, meski ia sejatinya masih hidup.

Asharfi Devi, nama perempuan 64 tahun itu, telah berjuang selama 24 tahun untuk membuktikan bahwa ia belum meninggal. Usahanya akhirnya membuahkan hasil pada Mei 2012 lalu, saat sidang dewan desa memutuskan, ia memang masih hidup.

Pada tahun 1960, Asharfi Devi dinikahkan orangtuanya dengan seorang petani lokal, Ram Janam Singh di Desa Barun, Distrik Rohtas, utara negara bagian Bihar.

Di pedesaan India, pernikahan sangat jarang didaftarkan, Asharfi Devi tak punya satu dokumen pun untuk membuktikan pernikahannya. Samar-samar otak lansianya mengingat, kala itu ia masih berusia 12 tahun.

Ia juga masih ingat, di hari itu ia gembira memakai pakaian pengantin, kain sari berwarna merah cerah. Lagu-lagu Hindi soundtrak film menghentak dari pengeras suara yang bertenger di atas pohon, di halaman rumah orang tuanya yang beratap jerami.

Namun, kebahagiaannya hanya sesaat.

Segera setelah pernikahan, terkuak kebohongan suaminya. Asharfi Devi ternyata istri kedua. Ram Janam Singh ternyata seorang duda, istri pertamanya, Jhalakia Devi meninggal dunia sebelum pernikahan keduanya.

Lalu, pada umur 19, Asharfi Devi menjadi ibu dari seorang bayi perempuan mungil. Sejak saat itulah, suaminya mulai menyiksanya, secara fisik juga mental. “Empat tahun setelah putriku lahir, suamiku mengusir kami. Aku dan anakku terpaksa tinggal dengan orangtuaku.

Seiring waktu berlalu, Asharfi Devi akhirnya mampu menikahkan putrinya, Bimla Devi dengan seorang pedagang sayur bernama Anil Kumar Singh. Saat itu ia masih tinggal di rumah orang tuanya. Seperti halnya tradisi di India, ayah dan kakak lelakinya patungan membayar mas kawin yang nilainya tak sedikit. Sebuah kebiasaan yang membuat orangtua menganggap anak perempuan sebagai beban.

Setelah menikahkan putrinya, bukan berarti Asharfi Devi lepas dari beban. Dunianya runtuh seketika saat mengetahui bahwa suaminya telah mengantongi sertifikat kematiannya dari dewan kota Sasaram. Tapi yang lebih mengiris hatinya, suaminya telah mengambil perempuan lain sebagai istri ketiga.

Surat kematian itu dikeluarkan pada 30 Desember 1988. “Pada usia 40 tahun, aku dinyatakan meninggal dunia,” kata Asharfi Devi, mengaku tak percaya.

Berjuang sendirian

Tak terima dinyatakan meninggal, Asharfi Devi memulai perjuangan panjang. Untuk membuktikan bahwa ia masih hidup. Ia melapor ke polisi, mengadu ke politisi, sampai ke pengadilan.

“Aku mengetuk setiap pintu, dari polisi hingga pengadilan, tapi tak satu pun yang bisa membuktikan secara resmi, bahwa aku masih hidup. Meski mereka yakin aku belum mati. Perasaanku luar biasa kecewa.”

Untuk melanjutkan perjuangannya, ia bersama putri dan menantunya sengaja pindah ke sebuah gubuk, jaraknya hampir setengah kilometer dari tempat tinggal suaminya.

Sejak saat itu, Asharfi Devi mengaku kerap diancam mantan suami dan istri barunya. “Ia bahkan mengirimku ke penjara dengan tuduhan palsu melakukan pencurian pada tahun 1993-1994, di masa lalu,” kata dia.

Usut punya usut, Asharfi Devi menduga, suaminya mendaftarkan kematiannya sebagai modus untuk menguasai harta gono-gini. “Ia mengalihkan seluruh properti miliknya atas nama istri ketiganya, setelah mengantongi surat kematianku,” kata dia.

Dalam keputusasaan, dalam perjuangan panjang, ia mengajukan petisi ke dewan desa tahun lalu. Selama delapan bulan, dewan memeriksa segala bukti yang diajukan. Mei lalu, mereka mengundang Asharfi Devi, suami, anggota keluarga, penduduk desa, polisi lokal, petugas administrasi, dan jurnalis. Sebagai saksi di hari penentuan.

“Setelah memeriksa semua fakta dan bukti, dewan desa memberikan keadilan bagi Asharfi Devi dengan menyatakan, dia masih hidup,” kata kepala dewan desa, Sandhya Sinha kepadaBBC.

Sebuah keputusan yang membuat hari Asharfi Devi luar biasa lega. “Sekarang aku punya surat yang menyatakan keberadaanku. Aku bukan orang mati.”

Keputusan tersebut juga disambut gembira putrinya. “Ini seperti peristiwa kelahiran kembali bagi ibuku,” kata Bimla Devi.

Namun tidak bagi suaminya, Ram Janam Singh, yang terus menyangkal keberadaannya. “Asharfi Devi telah meninggal dunia tahun 1998 lalu,” kata dia, bergeming. “Aku tak tahu mengapa perempuan itu mengklaim sebagai istriku. Tanya ke dia, apa lagi yang bisa saya katakan?”

Sumber: http://bit.ly/R4Vy0q

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: