Cegah Alergi Telur Pada Anak

Leave a comment

Aug 3, 2012 @ 14:19 by tanya gooogle

SEBELUMNYA kacang tanah, sekarang telur. Dokter telah membalikkan alergi pada beberapa anak dan remaja terhadap telur dengan memberikan dosis harian kecil secara bertahap. Ini untuk melatih sistem kekebalan tubuh mereka terhadap telur. Beberapa dokter menggunakan pendekatan yang sama pada beberapa anak dengan alergi kacang tanah beberapa tahun yang lalu.

Dalam uji terbaik ini, sekitar selusin anak-anak mampu mengatasi alergi terhadap telur, salah satu bahan utama yang banyak dijumpai dalam makanan. Telur dapat dijumpai dalam pasta, burger vegetarian, marshmallow, dan mayones.

Meski demikian, jangan mencoba terapi ini sendiri pada anak Anda. “Dibutuhkan produk khusus dan pengawasan dalam satu tahun atau lebih karena dapat menimbulkan reaksi parah dan berisiko,” kata Dokter yang terlibat dalam studi yang diterbitkan dalam Journal of Medicine New England.

“Ini terapi eksperimental dan dapat dilakukan secara aman oleh dokter yang terlatih,” kata Dr. Anthony Fauci, Direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Infeksi.

Terapi ini tidak berhasil untuk semua orang. Sebagian dari mereka yang diteliti menimbulkan reaksi alergi. Namun hasil menunjukkan “benar-benar” menjanjikan untuk pengobatan selanjutnya. “Hasil penelitian ini harus diuji dalam kelompok anak-anak yang lebih banyak,” kata pemimpin penelitian, Dr. A. Wesley Burks, Kepala Pediatri di University of North Carolina, Chapel Hill.

“Lebih dari 2 persen anak-anak memiliki alergi telur. Penderita biasanya mengalami gangguan di tenggorokan atau bahkan mengancam nyawa dari reaksi alergi jika mereka makan telur apapun,” kata Burks.

Kekhawatiran terbesar adalah anak-anak ini akan makan telur sebagai bahan dalam makanan mereka tanpa mereka sadari sehingga menimbulkan reaksi parah. Pelatihan sistem kekebalan tubuh anak ini untuk mentolerir sejumlah kecil dari telur untuk mencegah alergi yang parah.

Dari 55 anak usia 5 hingga 18 tahun, 40 di antaranya diberi porsi harian kecil putih telur bubuk, bagian yang biasanya menyebabkan alergi. Ke-15 lainnya diberi tepung maizena (tepung jagung) sebagai pembanding. Porsi tersebut meningkat setiap dua minggu sampai anak-anak tersebut bisa mengkonsumsi sekitar sepertiga dari telur setiap hari.

Mereka secara berkala mengunjungi dokter untuk memastikan bebas dari alergi makan telur. Mereka dinyatakan gagal uji coba jika dokter bisa melihat gejala alergi seperti tersengal-sengal.

Setelah setahun penelitian, ke-15 anak itu tidak bisa melewati tantangan makan telur. Sedangkan mereka yang diberi bubuk telur putih bernasib lebih baik.

“Pada akhir tahun, setengah dari mereka tidak lulus uji coba. Namun ditahun kedua penelitian, 75 persen dari mereka lulus,”

 

Sumber: http://bit.ly/Ne7jvx

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: