Duduk Terlalu Lama Picu Serangan Jantung

Leave a comment

May 16, 2012 @ 7:59 by tanya gooogle

Meski kebanyakan orang tak berpikir penyakit jantung sebagai bagian risiko dari pekerjaan, beberapa karakteristik tertentu dari pekerjaan mungkin dapat meningkatkan risiko serangan jantung dan masalah lainnya. Beberapa faktor yang berhubungan dengan pekerjaan, seperti duduk berjam-jam, stres, jam kerja tidak teratur, dan paparan bahan kimia tertentu atau polusi juga bisa membahayakan jantung Anda.

Ada beberapa tipe dan karakteristik pekerjaan yang sebenarnya mungkin dapat meningkatkan risiko seseorang terkena serangan jantung. Pekerjaan apa saja itu? Berikut adalah penjabarannya seperti dikutip Health.com:

1. Terlalu lama duduk

Orang yang sifat pekejaannya selalu menetap (minim aktivitas fisik) memiliki risiko lebih tinggi terkena masalah jantung daripada mereka yang pekerjaannya lebih aktif, kata Dr Martha Grogan, seorang ahli jantung dari Mayo Clinic, Rochester, Minnesotta.

Grogan mengatakan, tidak diketahui secara pasti mengapa hal ini bisa terjadi. Tetapi menurutnya, terlalu berlama-lama duduk dapat menyebabkan penurunan sensitivitas insulin dan enzim yang biasanya memecah lemak. Sebagai antisipasinya, Anda bisa berdiri dan berjalan-jalan sekali-sekali di tengah kesibukan pekerajaan Anda.

2. Polisi dan pemadam kebakaran

Penggabungan antara jenis pekerjaan yang cenderung tidak aktif dan memiliki tingkat stres tinggi – seperti melawan tindak kejahatan atau pemadam kebakaran – tidak bagus untuk kesehatan jantung. Sekitar 22 persen kematian pada polisi dan 45 persen pada petugas pemadam kebakaran kebanyak disebabkan karena penyakit jantung dibandingkan 15 persen jenis pekerjaan lainnya.

Bekerja berjam-jam, shift (jaga) malam, makan yang tidak sehat di tempat kerja, stres, paparan karbon monoksida atau polusi, serta faktor risiko lain, seperti hipertensi mungkin memainkan peran penting terhadap berkembangnya penyakit jantung. Jika Anda tidak dapat mengubah pekerjaan Anda, setidaknya Anda bisa melakukan perubahan dengan fokus pada hal-hal seperti makan sehat, olahraga, dan menurunkan tekanan darah – yang dapat Anda kendalikan.

3. Pengendara bus

Sopir bus lebih mungkin untuk mengalami hipertensi dibandingkan dengan pekerja lainnya, jelas Dr Peter L. Schnall, profesor kedokteran dari University of California, Irvine. Menurut Schnall, sopir bus berisiko mengalami tekanan dan stres saat melakukan pekerjaannya karena mereka membutuhkan kewaspadaan untuk menghindari kecelakaan dan menjaga penumpang tetap aman.

Namun, meskipun Anda tidak dapat mengontrol stres atau polusi, Anda dapat mengatasi faktor-faktor risiko lainnya. Sebuah riset menunjukkan, 56 persen dari para sopir bus di Taipei telah didiagnosa hipertensi jika dibandingkan dengan 31 persen jenis pekerjaan lainnya. Mereka juga memiliki kolesterol tinggi, berat badan, trigliserida, dan penyakit jantung.

4. Pekerja shift

Pergeseran jadwal atau berganti shift malam umum terjadi di kalangan tenaga kesehatan seperti dokter, perawat, dan lainnya. Orang-orang pada kelompok ini biasanya memiliki risiko lebih tinggi penyakit jantung dan diabetes tipe 2. Bekerja shift sendiri dapat mengganggu irama sirkadian dan jam tidur seseorang yang memainkan peran penting dalam menjaga gula darah, tekanan darah, dan regulasi insulin. Tapi gaya hidup yang tidak sehat juga dapat menjadi faktor pemicu.

Pekerja shift malam tampaknya lebih mungkin untuk merokok, kata Dr Nieca Goldberg, direktur medis dari Joan H. Tisch Center for Women Health di NYU Langone Medical Center di New York City. Sementara itu durasi tidur yang pendek telah dikaitkan dengan risiko penyakit jantung yang lebih besar.

5. Bartender

Banyak negara-negara bagian dan kota-kota di Amerika Serikat sudah memiliki undang-undang larangan merokok di restoran dan bar. Namun bartender yang bekerja di tempat-tempat yang tidak memiliki peraturan seperti itu memiliki risiko lebih besar untuk secara sengaja menghisap asap tembakau.

“Sudah jelas menunjukkan bahwa asap rokok secara signifikan meningkatkan risiko serangan jantung,” kata Dr Grogan.

6. Pekerja terowongan

Sebuah studi pada 1988 yang melibatkan lebih dari 5.000 pekerja terowongan di New York City menemukan bahwa orang yang pernah bekerja di terowongan transportasi memiliki peningkatan risiko kematian terkait jantung sebesar 35 persen ketimbang populasi umum.

“Ini intuitif. Para pekerja ini biasanya lebih berisiko terpapar tingkat yang lebih tinggi karbon monoksida dibandingkan dengan pekerja jembatan,” kata Dr Mauro Moscucci, kepala divisi kardiovaskular dari University of Miami Miller School of Medicine. Penelitian telah menunjukkan bahwa paparan polusi udara dapat meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke.

7. Pekerja pabrik

Orang yang bekerja di pabrik atau pekerjaan yang sangat menuntut kuota namun tendah tingkat pengawasan atau kontrol dari pekerjaan, juga dianggap berada pada kelompok yang berisiko tinggi penyakit jantung. “Bekerja di luar kemampuan adalah sebuah stressor yang dapat mengarah ke penyakit jantung,” kata Dr Moscucci.

Sebuah penelitian dalam The Landmark Whitehall di mana melibatkan hampir 11.000 pegawai sipil Inggris menemukan bahwa pria dan wanita dengan kontrol pekerjaan rendah memiliki dua kali lipat mendapatkan penyakit jantung. Hal yang sama berlaku pula pada pekerja yang mendapat kontrol lebih besar.

8. Bekerja 11 jam lebih

Karyawan yang bekerja selama berjam-jam juga berisiko lebih tinggi. “Kami mengetahui ada hubungan antara beban kerja dan penyakit arteri koroner,” kata Dr Schnall.

Studi Whitehall juga menemukan adanya peningkatan kasus penyakit jantung koroner (67 persen) pada pegawai negeri Inggris yang bekerja 11 jam atau lebih dalam sehari dibandingkan dengan mereka yang hanya bekerja 7 sampai 8 jam. Jika Anda tidak dapat mengurangi jam kerja, Anda dapat fokus pada faktor-faktor risiko lain yang dapat Anda kontrol seperti makan banyak buah dan sayuran, cukup tidur, dan melakukan aktivitas fisik selama beberapa minggu.

9. Pekerjaan tanpa asuransi kesehatan

Sekitar 50 juta orang Amerika Serikat, atau 1 dari 6 orang, tidak diasuransikan pada tahun 2010. Kurangnya asuransi kesehatan telah dikaitkan dengan buruknya kondisi kesehatan pada umumnya dan kesehatan jantung pada khususnya. Riset pada 2007 dalam Journal of American Medical Association menemukan, ada perbaikan tingkat kesehatan pada orang dewasa yang mendapat asuransi setelah sebelumnya mereka tidak diasuransikan.

10. Kehilangan pekerjaan

Meskipun ini tidak terkait antara jenis pekerjaan dan risiko serangan jantung, tetapi kehilangan pekerjaan juga bisa membahayakan kesehatan jantung. Riset menunjukkan, pekerja berusia lebih tua yang kehilangan pekerjaan bukan karena kesalahan mereka sendiri (misalnya, kantor atau pabrik bangkrut dan bukan karena masalah kesehatan) memiliki risiko dua kali lipat menderita stroke.

Bahkan sebuah studi dari ilmuwan Harvard pada 2009 menemukan, orang yang kehilangan pekerjaan mereka lebih mungkin untuk mengembangkan masalah baru, seperti tekanan darah tinggi, diabetes, dan penyakit jantung di kemudian hari.

Sumber: bit.ly/L5fR5k 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: